Antropologi Pendidikan
SUKU BUGIS
OLEH:
SY NURJAMILA (
215 130 014)
Dosen Pembina:
Dra. Nurhannah
Ibrahim, M.Pd.
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE
2017
KATA
PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa,karena atas rahmat dan karunianya penyusun dapat menyelesaikan makalah ini
tepat pada waktunya.Adapun judul dari makalah ini adalah ”Suku Bugis”. Makalah
ini di susun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Antropologi
Pendidikan.
Pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada dosen mata kuliah yang bersangkutan yang telah
memberikan tugas terhadap penyusun.
Penyusunan makalah ini jauh dari sempurna.Dan ini merupakan
langkah yang baik dari studi yang sesungguhnya. Oleh karena keterbatasan waktu
dan kemampuan penyusun, maka kritik dan saran yang membangun senantiasa
penyusun harapkan. Semoga makalah inidapat berguna bagi penyusun pada khususnya
dan pihak lain yang berkepentingan pada umumnya.
Parepare, 06 Mei 2017
Penyusun
Sy. Nurjamila
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR................................................................................................................ i
DAFTAR
ISI............................................................................................................................... ii
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah.................................................................................................. 1
B. Rumusan
Masalah............................................................................................................ 1
C. Tujuan
Penulisan.............................................................................................................. 1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Awal
Mula Suku Bugis.................................................................................................... 3
B. Kepercayaan
Asli Masyarakat Sulawesi Selatan............................................................. 3
C. Mata
Pencaharian............................................................................................................. 7
D. Bhasa
dan Literature........................................................................................................ 8
E. Kesenian.......................................................................................................................... 8
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan...................................................................................................................... 10
B. Saran................................................................................................................................ 10
DAFTAR
PUSTAKA................................................................................................................. 11
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG MASALAH
Manusia adalah makhluk Tuhan yang
paling tinggi dibanding makhluk Tuhan lainnya. Manusia di anugerahi kemampuan
untuk berpikir, kemampuan untuk memilah dan memilih mana yang baik dan mana
yang buruk. Dengan kelebihan itulah manusia seharusnya mampu mengelola
lingkungan dengan baik. Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup
sendiri.Manusia selalu berinteraksi dengan lingkungan, dan hidup berkelompok.
Dalam
kehidupan sosial manusia, ada istilah adat istiadat dimana setiap kelompok/suku
memiliki adat istiadat dn aturan yang berbeda-beda. Baik dari segi tata cara
pernikahaan, keagamaan, dan tata cara menjalani kehidupan sehari-hari. Dengan
banyaknya suku yang berbeda, tidak membuat terciptanya permusuhan antar sesama
manusia, karena sikap saling menghormati dan menghargai menjadi salah satu
sikap yang di tanamkan sejak dini.
Salah satu suku yang terkenal dalam
penyebarannya yaitu suku Bugis. Salah satu suku yang terkenal karena jiwa
perantauannya yang hingga ke mancanegara. Bahakan adat istiadatnya menjadi
salah satu bahan ketertarikan para wisatawan baik dalam negeri maupun luar
negeri.
B. RUMUSAN
MASALAH
Dari latar belakang masalah yang
diuraikan, banyak permasalahan yang didapatkan. Permasalahan tersebut adalah :
1. Bagaimana awal mula
suku bugis?
2. Apa kepercayaan
asli masyarakat Sulawesi Selatan?
3. Apa mata
pencaharian suku bugis?
4. Bagaima bahasa, literature
dan kesenian suku bugis?
C. TUJUAN
PENULISAN
1.
Untuk mengetahui awal mula dari suku bugis
2.
Untuk mengetahui secara rinci kepercayaan asli yang
dianut masyarakat suku bugis
3.
Untuk mengetahui mata pencaharian suku bugis dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya
4.
Unutk mengetahui bahasa, literature dan keseniaan
suku bugis
BAB II
PEMABAHASAN
A.
AWAL MULA SUKU BUGIS
Bugis
adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero Melayu. Masuk ke
Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan.
Kata “Bugis” berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan “ugi” merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading.
Kata “Bugis” berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan “ugi” merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading.
Sawerigading
sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La
Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih
9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah
kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat
Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili,
Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti ButoN.
1.
Kepercayaan Towani Tolotang
Towani Tolotang merupakan salah satu kelompok social di
Kelurahan Amparita. kepercayaan
Towani Lotang merupakan kebudayaan yang didirikan oleh La Panaungi, system ini
juga banyak di anut oleh masyarakat suku bugis, hingga saat ini sudah sekitar
16 ribu masyarakat suku bugis yang menganut system kepercayaan ini. Towani Tolotang juga merupakan sebutan
bagi agama yang mereka anut, kepercayaan Towani Tolotang bersumber dari Kepercayaan
yang didirikan oleh La Panaungi karena mendapat wahyu dari Sawerigading untuk
melanjutkan ajarannya dan melakukan pemujaan terhadap dewata sawwae. kitab suci
dari ajaran ini adalah La Galigo. Kitab suci ini disimpan dan dilafalkan oleh
pemimpin mereka yang disebut “uwak” dan kemudian akan diwariskan secara turun
menurun kepada penerusnya secara lisan.
Dalam masyarakat Towani Tolotang dikenal adanya pemimipin
agama yang mereka sebut Uwa dan Uwatta yang sekaligus sebagai semacam kepala
suku. Kelompok Uwa dan Uwatta menempati posisi tertinggi dalam system pelapisan
social dikalangan masyarakat Towani Tolotang. Sebagai pemimpin agama para Uwa
dan Uwatta dijadikan sebagai panutan dalam masyarakat, juga sebagai perantara
manusia dengan Dewata Sewwae. Dalam masyarakat terdapat tujuh orang uwak yang salah
satunya di angkat menjadi emimpin dan dinamakan “uwak battoa” atau disebut juga
pemimpin besar. Sementara uwak lainnya memiliki garis tugas masing-masing
diantara mengurusi daerah persawahan, upacara adat, kehidupan social,
penyelenggaraan upacara ritual dan lain sebagainya.
Menurut
pengakuan uwak languga setti sebagai salah satu tokoh masyarakat Towani Lotang
yang bertindak sebagai juru bicara, nama tersebut bukanlah nama kepercayaan
kami ( towani lotang). Karena nama tersebut pada mulanya adalah nama raja yang
pernah memimpin di sedenreng sejak 1609-1910 terhadap kelompok atau komunitas
Towani Lotang
Kehidupan sosial Towani Tolotang yang nampak dalam
kesehariannya merupakan cerminan dari ajaran agama yang ada. Pola perilaku
terjadi tentu tidak terlepas dari konsep-konsep agama yang ada, hal ini dapat
disaksikan pada setiap sesi kehidupan, dimana setiap akan memulai suatu
pekerjaan diperlukan serangkaian acara serimonial keagamaan. Towani
Tolotang meyakini bahwa setiap kegiatan yang dilaksanakan haruslah dilakukan
upacara atau ritual tertentu agar mendapat restu dari Dewata Sewwae, karena
tanpa restu dari Nya, sulit untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Pada
mulanya masyarakat Towani Lotang adalah masyarakat penggungsi dan dari daerah
asalnya yang bernama Wani di Kerajaan (Kabupaten Wajo). Daerah di sebelah barat
dan tempatnya sekarang. Ketika masa pengislaman kerajaan di sulsel yang dibawa
oleh ulama dari melayu dan dibantu oleh kerajaan gowa pada mula abad 17 tahun
1610.
2.
Aluk Tudolo
Di daerah Tana Toraja sekarang ini masih hidup sebuah kepercayaan
purba yang bernama Aluk Todolo yang lazim juga di sebut Alukta. Kepercayaan ini
merupakan kepercayaan asli masyarakat Toraja walaupun sekarang ini mayoritas
penduduknya telah beragama terutama agama Kristen Protestan dan agama Kristen
Katholik. Inti ajaran Alukta menyatakan bahwa manusia harus menyembah kapada 3
oknum yaitu:
Ø Puang
Matua sebagai pencipta segala isi bumi
Ø Deata-deata
yang jumlahnya banyak sebagai pemelihara seluruh ciptaan Puang Matua.
Ø Tomembali
Puang/todolo sebagai pengawas yang memperlihatkan gerak-gerik serta berkat
kepada manusia keturunannya
Menyimak hal di atas khususnya point ke-3, maka jelaslah
bahwa menurut kepercayaan mereka, manusia yang masih hidup tidak akan terlepas
dari pengawasan arwah leluhurnya yang disebut Tomembali Puang/Todolo. Dengan
kata lain arwah-arwah seseorang yang telah meninggal tidak akan melupakan
keturunannya begitu saja akan tetapi tetap memperhatikannya. Hal itu berarti
antara orang yang telah meninggal dengan orang yang masih hidup tetap ada hubungan.
Mereka juga meyakini bahwa apabila mereka tidak memberikan berkat, nenek moyang
juga bisa murka yang kemudian mendatangkan banjir, penyakit atau gagal panen.
Oleh karena itu keselarasan dan keharmonisan harus tetap
dijaga. Maka untuk itu sebelum di lepas ke alam arwah, keluarga mengadakan
serangkaian upacara sakral dengan harapan dapat diterima disana nantinya (alam
puya) dan tidak mendatangkan bencana. Selain itu pada waktu-waktu tertentu
dilaksanakan upacara untuk memperingati mereka yang biasa dilaksanakan setelah
panen yang berhasil atau suatu kondisi yang baik sebagai ucapan syukur sebagai
berkat dari leluhur mereka. Adapun fungsi hewan kurban pada upacara Rambu Solo’
bagi orang Toraja yaitu;
- Akan menentukan kedudukan arwah orang yang telah meninggal,
karena diyakini bahwa seseorang yang datang ke dunia dan pada saat
meninggalnya apabila dia tidak membawa bekal dari dunia, arwahnya tidak
akan diterima Puang Matua (Tuhan)
- Sebagai suatu hal yang menentukan martabat keturunannya
dalam mesyarakat yang tetap memiliki status sosial sesuai dengan kastanya
semula
- Akan menjadi patokan dalam membagi warisan si mati
3.
Kepercayaan Dewata
Seuwae.
Sebelum masuknya Islam di Sulawesi Selatan, masyarakat
Bugis Makassar sudah mempunyai “kepercayaan asli” (ancestor belief) dan
menyebut Tuhan dengan sebutan ‘Dewata Seuwae’, yang berarti Tuhan kita yang
satu. Bahasa yang digunakan untuk menyebut nama ‘Tuhan’ itu menunjukkan bahwa
orang Bugis Makassar memiliki kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa secara
monoteistis. Menurut Mattulada, religi orang Bugis – Makassar masa Pra-Islam
seperti tergambar dalam Sure’ La Galigo, sejak awal telah memiliki suatu
kepercayaan kepada suatu Dewa (Tuhan) yang tunggal, yang disebut dengan
beberapa nama : PatotoE (Dia yang menentukan Nasib), Dewata Seuwae (Dewa yang
tunggal), dan Turie A’rana (kehendak yang tertinggi).
Kepercayaan dengan konsep dewa tertinggi To-Palanroe atau
PatotoE, diyakini pula mempunyai anggota keluarga dewata lain dengan beragam
tugas. Untuk memuja dewa-dewa ini tidak bisa langsung, melainkan lewat dewa
pembantunya. Konsep deisme ini disebut dalam attoriolong, yang secara harfiah
berarti mengikuti tata cara leluhur. Lewat atturiolong juga diwariskan
petunjuk-petunjuk normatif dalam kehidupan bermasyarakat. Raja atau penguasa
seluruh negeri Bugis Makassar mengklaim dirinya mempunyai garis keturunan
dengan Dewa-dewa ini melalui Tomanurung (orang yang dianggap turun dari langit
/ kayangan), yang menjadi penguasa pertama seluruh dinasti kerajaan yang
ada.
Istilah Dewata
Seuwae itu dalam aksara lontaraq, dibaca dengan berbagai macam ucapan, misalnya
: Dewata, Dewangta, dan Dewatangna yang mana mencerminkan sifat dan esensi
Tuhan dalam pandangan teologi orang Bugis Makassar. De’watangna berarti “yang
tidak punya wujud”, “De’watangna” atau “De’batang” berarti yang tidak bertubuh
atau yang tidak mempunyai wujud. De’ artinya tidak, sedangkan watang (batang)
berarti tubuh atau wujud. “Naiyya Dewata SeuwaE Tekkeinnang”, artinya “Adapun
Tuhan Yang Maha Esa itu tidak beribu dan tidak berayah”. Sedang dalam Lontarak
Sangkuru’ Patau’ Mulajaji sering juga digunakan istilah “Puang SeuwaE To
PalanroE”, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta. Istilah lain, “Puang
MappancajiE”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Konsep “Dewata SeuwaE”
merupakan nama Tuhan yang dikenal etnik Bugis – Makassar.
Kepercayaan orang Bugis kepada “Dewata SeuwaE” dan
“PatotoE” serta kepercayaan “Patuntung” orang Makassar sampai saat ini masih
ada saja bekas-bekasnya dalam bentuk tradisi dan upacara adat. Kedua
kepercayaan asli tersebut mempunyai konsep tentang alam semesta yang diyakini
oleh masyarakat pendukungnya terdiri atas tiga dunia, yaitu dunia atas (boting
langi), dunia tengah (lino atau ale kawa) yang didiami manusia, dan dunia bawah
(peretiwi). Tiap-tiap dunia mempunyai penghuni masing-masing yang satu sama
lain saling mempengaruhi dan pengaruh itu berakibat pula terhadap kelangsungan
kehidupan manusia.
Selain itu, orang Bugis Makassar pra-Islam juga melakukan
pemujaan terhadap kalompoang atau arajang. Kata “Arajang” bagi orang Bugis atau
“Kalompoang” atau “Gaukang” bagi orang Makassar berarti kebesaran. Yang
dimaksudkan ialah benda-benda yang dianggap sakti, keramat dan memiliki nilai
magis. Benda-benda tersebut adalah milik raja yang berkuasa atau yang
memerintah dalam negeri. Benda-benda tersebut berwujud tombak, keris, badik,
perisai, payung, patung dari emas dan perak, kalung, piring, jala ikan,
gulungan rambut, dan lain sebagainya.
4. Sistem kepercayaan agama islam
Masyarakat
bugis dengan segala dan kebudayaan menganut agama islam. kepercayaan yang
banyak di anut suku bugis ini telah masuk sejak abad ke 17. Kepercayaan islam
di suku bugis ini sendiri awal mulanya dibawa oleh pesyiar dari daerah
minangkabau. Kemudian oleh para pesyiar tersebut penyebaran agama islam
dilakukan ke tiga wilayah. Penyiar abdul makmur di tugaskan untuk menyebarkan
agama islam di daerah gowa dan tallo, sementara di daerah luwu yang di tugaskan
adalah penyiar Suleiman, dan terakhir penyiar nurdin ariyani di tugaskan di
daerah terakhir yaitu daerah bulukumba. Awal mulanya hanya merekalah yang
menyiarkan dan mengembangkan ajaran islam di tanah bugis.
C.
MATA PENCAHARIAN
Karena
masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka
kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata
pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu
masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang
pendidikan.
Kepiawaian
suku Bugis-Makasar dalam mengarungi samudrapun cukup dikenal luas, dan wilayah
perantauan mereka pun hingga Malaysia, Filipina,
Brunei, Thailand, Australia, Madagaskar dan Afrika Selatan. Bahkan, di
pinggiran kota Cape Town, Afrika Selatan terdapat sebuah suburb yang bernama
Maccassar, sebagai tanda penduduk setempat mengingat tanah asal nenek moyang
mereka.
Penyebab
dari merantauny suku Bugis-Makassar ialah konflik antara kerajaan Bugis dan
Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis pada abad ke-16, 17, 18 dan 19,
menyebabkan tidak tenangnya daerah Sulawesi Selatan. Hal ini menyebabkan
banyaknya orang Bugis bermigrasi terutama di daerah pesisir. Selain itu budaya
merantau juga didorong oleh keinginan akan kemerdekaan. Kebahagiaan dalam
tradisi Bugis hanya dapat diraih melalui kemerdekaan.
D.
BAHASA
DAN LITERATUR
Dalam kesehariannya hingga saat ini orang bugis masih
menggunakan bahasa “Ugi” yang merupakan bahasa keluarga besar dari bahasa
Austronesia Barat. Selain itu, orang Bugis juga memiliki aksara sendiri yakni
aksara lontara yang berasal dari huruf Sansekerta. Bahkan uniknya, logat bahasa
Bugis berbeda di setiap wilayahnya; ada yang kasar dan ada yang halus. Bahasa,
yang dimiliki Suku Bugis menandakan satu hal: Suku Bugis pada masanya memiliki
peradaban yang luar biasa hebatnya. Nenek moyang Suku Bugis adalah orang-orang
pintar yang mampu menciptakan dan mewariskan ilmu pengetahuan.
E.
KESENIAN
·
Alat
musik
1.
Kacapi
(kecapi) Salah satu alat musik petik tradisional Sulawesi Selatan khususnya
sukuBugis, Bugis Makassar dan Bugis Mandar. Menurut sejarahnya kecapi ditemukan
atau diciptakan oleh seorang pelaut, sehingga bentuknya menyerupai perahu yang
memiliki dua dawai, diambil karena penemuannya dari tali layar perahu.
2.
Sinrili,
Alat musik yang mernyerupai biola tetapi biola di mainkan dengan membaringkan
di pundak sedangkan Singrili di mainkan dalam keedaanpemain duduk dan alat
diletakkan tegak di depan pemainnya.
3.
Gendang
Musik , perkusi yang mempunyai dua bentuk dasar yakni bulat panjang
danbundarseperti rebana.
4.
SulingSuling
bambu/buluh, terdiri dari tiga jenis, yaitu:
Ø Suling panjang (suling lampe),
memiliki 5 lubang nada. Suling jenis ini telahpunah
Ø Suling calabai (Suling ponco),sering
dipadukan dengan piola (biola) kecapidan dimainkan bersama penyanyi
Ø Suling dupa samping (musik bambu),
musik bambu masih terplihara didaerahKecamatan Lembang. Biasanya digunakan pada
acara karnaval (barisberbaris) atau acara penjemputan tamu.
·
Seni
Tari
Ø Tari pelangi; tarian pabbakkanna
lajina atau biasa disebut tari meminta hujan.
Ø Tari Paduppa Bosara; tarian yang
mengambarkan bahwa orang Bugis jika kedatangan tamu senantiasa menghidangkan
bosara, sebagai tanda kesyukuran dan kehormatan
Ø Tari Pattennung; tarian adat yang
menggambarkan perempuan-perempuan yang sedang menenun benang menjadi kain.
Melambangkan kesabaran danketekunan perempuan-perempuan Bugis.
Ø Tari Pajoge’ dan Tari Anak Masari;
tarian ini dilakukan oleh calabai(waria), namun jenis tarian ini sulit sekali
ditemukan bahkan dikategorikan telahpunah.
Ø Jenis tarian yang lain adalah tari
Pangayo, tari Passassa ,tari Pa’galung, dan Tari Pabbatte (biasanya di gelar
padasaat Pesta Panen)
KESIMPULAN
Pada dasarnya Indonesia kaya akan kebudayaan yang berada di
pulau-pulau. Di setiap pulau mempunyai suku yang beraneka ragam pula, contohnya
Suku Bugis yang terdapat di Sulawesi Selatan. Penyebaran Suku Bugis sudah
banyak di Indonesia hingga ke Pulau Kalimantan bahkan Pulau Sumatera akibat
sifat manusia Suku Bugis yang suka merantau, penyebarannya melalui perdagangan
dan pernikahan, jadi tak heran jika kita dapat menemukan Suku Bugis selain di
Provinsi Sulawesi.
Kekayaan keseniannya pun menyebar luas dan harus di
lestarikan dan di paten kan hak ciptanya agar tidak dapat di klaim oleh Negara
lain, karena itu merupakan bagian dari kesenian Negara Indonesia.
SARAN
Pada era teknologi seperti saat ini,
kebudayaan dan kesenian tradisional semakin tergeser. Sebaiknya pada anak usia
dini di ajarkan tentang kesenian tradisional, baik dari segi bahasa, tari, alat
music maupun adat isitiadat lainnya. Itu semua demi kelestarian kebudayaan dan
kesenian tradisional.
DAFTAR PUSTAKA
Abu
Hamid, 1982, Selayang Pandang, Uraian Tentang Islam dan Kebudayaan (dalam buku
Bugis Makassar Dalam Peta Islamisasi Indoensia), Ujung Pandang, IAIN.
Abd.
Kadir Ahmad, 2004, Masuknya Islam di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Ternggara,
Makassar, Balai Litbang Agama Makassar.
Mattuladda,
1974. Bugis Makassar, Manusia dan Kebudayaan. Makassar. Berita Antropologi No.
16 Fakultas Sastra UNHAS.
------------,
1975. Latoa, Suatu Lukisan Analitis Antropologi Politik Orang Bugis., Makassar:
Disertasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar