Sabtu, 15 Juli 2017

awal mula suku bugis

Antropologi Pendidikan


SUKU BUGIS

umparwarna     







OLEH:

SY NURJAMILA                 ( 215 130 014)

Dosen Pembina:
Dra. Nurhannah Ibrahim, M.Pd.


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE

2017

KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,karena atas rahmat dan karunianya penyusun dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.Adapun judul dari makalah ini adalah ”Suku Bugis”. Makalah ini di susun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Antropologi Pendidikan.
Pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen mata kuliah yang bersangkutan yang telah memberikan tugas terhadap penyusun.
Penyusunan makalah ini jauh dari sempurna.Dan ini merupakan langkah yang baik dari studi yang sesungguhnya. Oleh karena keterbatasan waktu dan kemampuan penyusun, maka kritik dan saran yang membangun senantiasa penyusun harapkan. Semoga makalah inidapat berguna bagi penyusun pada khususnya dan pihak lain yang berkepentingan pada umumnya.


         Parepare, 06 Mei 2017
Penyusun

Sy. Nurjamila


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................................    i
DAFTAR ISI...............................................................................................................................    ii
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah..................................................................................................    1
B.     Rumusan Masalah............................................................................................................    1
C.     Tujuan Penulisan..............................................................................................................    1
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Awal Mula Suku Bugis....................................................................................................    3
B.     Kepercayaan Asli Masyarakat Sulawesi Selatan.............................................................    3
C.     Mata Pencaharian.............................................................................................................    7
D.    Bhasa dan Literature........................................................................................................    8
E.     Kesenian..........................................................................................................................    8
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan......................................................................................................................    10
B.     Saran................................................................................................................................    10
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................    11

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi dibanding makhluk Tuhan lainnya. Manusia di anugerahi kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan kelebihan itulah manusia seharusnya mampu mengelola lingkungan dengan baik. Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri.Manusia selalu berinteraksi dengan lingkungan, dan hidup berkelompok.
            Dalam kehidupan sosial manusia, ada istilah adat istiadat dimana setiap kelompok/suku memiliki adat istiadat dn aturan yang berbeda-beda. Baik dari segi tata cara pernikahaan, keagamaan, dan tata cara menjalani kehidupan sehari-hari. Dengan banyaknya suku yang berbeda, tidak membuat terciptanya permusuhan antar sesama manusia, karena sikap saling menghormati dan menghargai menjadi salah satu sikap yang di tanamkan sejak dini.
Salah satu suku yang terkenal dalam penyebarannya yaitu suku Bugis. Salah satu suku yang terkenal karena jiwa perantauannya yang hingga ke mancanegara. Bahakan adat istiadatnya menjadi salah satu bahan ketertarikan para wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri.
B.     RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang masalah yang diuraikan, banyak permasalahan yang didapatkan. Permasalahan tersebut adalah :
1.      Bagaimana awal mula suku bugis?
2.      Apa kepercayaan asli masyarakat Sulawesi Selatan?
3.      Apa mata pencaharian suku bugis?
4.      Bagaima bahasa, literature dan kesenian suku bugis?

C.    TUJUAN PENULISAN
1.      Untuk mengetahui awal mula dari suku bugis
2.      Untuk mengetahui secara rinci kepercayaan asli yang dianut masyarakat suku bugis
3.      Untuk mengetahui mata pencaharian suku bugis dalam memenuhi kebutuhan hidupnya
4.      Unutk mengetahui bahasa, literature dan keseniaan suku bugis


BAB II
PEMABAHASAN
A.    AWAL MULA SUKU BUGIS
Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero Melayu. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan.
Kata “Bugis” berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan “ugi” merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading.
Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti ButoN.

1.       Kepercayaan Towani Tolotang 
Towani Tolotang merupakan salah satu kelompok social di Kelurahan Amparita. kepercayaan Towani Lotang merupakan kebudayaan yang didirikan oleh La Panaungi, system ini juga banyak di anut oleh masyarakat suku bugis, hingga saat ini sudah sekitar 16 ribu masyarakat suku bugis yang menganut system kepercayaan ini. Towani Tolotang juga merupakan sebutan bagi agama yang mereka anut, kepercayaan Towani Tolotang bersumber dari Kepercayaan yang didirikan oleh La Panaungi karena mendapat wahyu dari Sawerigading untuk melanjutkan ajarannya dan melakukan pemujaan terhadap dewata sawwae. kitab suci dari ajaran ini adalah La Galigo. Kitab suci ini disimpan dan dilafalkan oleh pemimpin mereka yang disebut “uwak” dan kemudian akan diwariskan secara turun menurun kepada penerusnya secara lisan. 
Dalam masyarakat Towani Tolotang dikenal adanya pemimipin agama yang mereka sebut Uwa dan Uwatta yang sekaligus sebagai semacam kepala suku. Kelompok Uwa dan Uwatta menempati posisi tertinggi dalam system pelapisan social dikalangan masyarakat Towani Tolotang. Sebagai pemimpin agama para Uwa dan Uwatta dijadikan sebagai panutan dalam masyarakat, juga sebagai perantara manusia dengan Dewata Sewwae. Dalam masyarakat terdapat tujuh orang uwak yang salah satunya di angkat menjadi emimpin dan dinamakan “uwak battoa” atau disebut juga pemimpin besar. Sementara uwak lainnya memiliki garis tugas masing-masing diantara mengurusi daerah persawahan, upacara adat, kehidupan social, penyelenggaraan upacara ritual dan lain sebagainya.
Menurut pengakuan uwak languga setti sebagai salah satu tokoh masyarakat Towani Lotang yang bertindak sebagai juru bicara, nama tersebut bukanlah nama kepercayaan kami ( towani lotang). Karena nama tersebut pada mulanya adalah nama raja yang pernah memimpin di sedenreng sejak 1609-1910 terhadap kelompok atau komunitas Towani Lotang
Kehidupan sosial Towani Tolotang yang nampak dalam kesehariannya merupakan cerminan dari ajaran agama yang ada. Pola perilaku terjadi tentu tidak terlepas dari konsep-konsep agama yang ada, hal ini dapat disaksikan pada setiap sesi kehidupan, dimana setiap akan memulai suatu pekerjaan diperlukan serangkaian acara serimonial keagamaan. Towani Tolotang meyakini bahwa setiap kegiatan yang dilaksanakan haruslah dilakukan upacara atau ritual tertentu agar mendapat restu dari Dewata Sewwae, karena tanpa restu dari Nya, sulit untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Pada mulanya masyarakat Towani Lotang adalah masyarakat penggungsi dan dari daerah asalnya yang bernama Wani di Kerajaan (Kabupaten Wajo). Daerah di sebelah barat dan tempatnya sekarang. Ketika masa pengislaman kerajaan di sulsel yang dibawa oleh ulama dari melayu dan dibantu oleh kerajaan gowa pada mula abad 17 tahun 1610.
2.      Aluk Tudolo
Di daerah Tana Toraja sekarang ini masih hidup sebuah kepercayaan purba yang bernama Aluk Todolo yang lazim juga di sebut Alukta. Kepercayaan ini merupakan kepercayaan asli masyarakat Toraja walaupun sekarang ini mayoritas penduduknya telah beragama terutama agama Kristen Protestan dan agama Kristen Katholik. Inti ajaran Alukta menyatakan bahwa manusia harus menyembah kapada 3 oknum yaitu: 
Ø  Puang Matua sebagai pencipta segala isi bumi 
Ø  Deata-deata yang jumlahnya banyak sebagai pemelihara seluruh ciptaan Puang Matua. 
Ø  Tomembali Puang/todolo sebagai pengawas yang memperlihatkan gerak-gerik serta berkat kepada manusia keturunannya 
Menyimak hal di atas khususnya point ke-3, maka jelaslah bahwa menurut kepercayaan mereka, manusia yang masih hidup tidak akan terlepas dari pengawasan arwah leluhurnya yang disebut Tomembali Puang/Todolo. Dengan kata lain arwah-arwah seseorang yang telah meninggal tidak akan melupakan keturunannya begitu saja akan tetapi tetap memperhatikannya. Hal itu berarti antara orang yang telah meninggal dengan orang yang masih hidup tetap ada hubungan. Mereka juga meyakini bahwa apabila mereka tidak memberikan berkat, nenek moyang juga bisa murka yang kemudian mendatangkan banjir, penyakit atau gagal panen.
Oleh karena itu keselarasan dan keharmonisan harus tetap dijaga. Maka untuk itu sebelum di lepas ke alam arwah, keluarga mengadakan serangkaian upacara sakral dengan harapan dapat diterima disana nantinya (alam puya) dan tidak mendatangkan bencana. Selain itu pada waktu-waktu tertentu dilaksanakan upacara untuk memperingati mereka yang biasa dilaksanakan setelah panen yang berhasil atau suatu kondisi yang baik sebagai ucapan syukur sebagai berkat dari leluhur mereka. Adapun fungsi hewan kurban pada upacara Rambu Solo’ bagi orang Toraja yaitu; 
  • Akan menentukan kedudukan arwah orang yang telah meninggal, karena diyakini bahwa seseorang yang datang ke dunia dan pada saat meninggalnya apabila dia tidak membawa bekal dari dunia, arwahnya tidak akan diterima Puang Matua (Tuhan) 
  • Sebagai suatu hal yang menentukan martabat keturunannya dalam mesyarakat yang tetap memiliki status sosial sesuai dengan kastanya semula 
  • Akan menjadi patokan dalam membagi warisan si mati


3.      Kepercayaan Dewata Seuwae. 
Sebelum masuknya Islam di Sulawesi Selatan, masyarakat Bugis Makassar sudah mempunyai “kepercayaan asli” (ancestor belief) dan menyebut Tuhan dengan sebutan ‘Dewata Seuwae’, yang berarti Tuhan kita yang satu. Bahasa yang digunakan untuk menyebut nama ‘Tuhan’ itu menunjukkan bahwa orang Bugis Makassar memiliki kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa secara monoteistis. Menurut Mattulada, religi orang Bugis – Makassar masa Pra-Islam seperti tergambar dalam Sure’ La Galigo, sejak awal telah memiliki suatu kepercayaan kepada suatu Dewa (Tuhan) yang tunggal, yang disebut dengan beberapa nama : PatotoE (Dia yang menentukan Nasib), Dewata Seuwae (Dewa yang tunggal), dan Turie A’rana (kehendak yang tertinggi). 
Kepercayaan dengan konsep dewa tertinggi To-Palanroe atau PatotoE, diyakini pula mempunyai anggota keluarga dewata lain dengan beragam tugas. Untuk memuja dewa-dewa ini tidak bisa langsung, melainkan lewat dewa pembantunya. Konsep deisme ini disebut dalam attoriolong, yang secara harfiah berarti mengikuti tata cara leluhur. Lewat atturiolong juga diwariskan petunjuk-petunjuk normatif dalam kehidupan bermasyarakat. Raja atau penguasa seluruh negeri Bugis Makassar mengklaim dirinya mempunyai garis keturunan dengan Dewa-dewa ini melalui Tomanurung (orang yang dianggap turun dari langit / kayangan), yang menjadi penguasa pertama seluruh dinasti kerajaan yang ada. 
 Istilah Dewata Seuwae itu dalam aksara lontaraq, dibaca dengan berbagai macam ucapan, misalnya : Dewata, Dewangta, dan Dewatangna yang mana mencerminkan sifat dan esensi Tuhan dalam pandangan teologi orang Bugis Makassar. De’watangna berarti “yang tidak punya wujud”, “De’watangna” atau “De’batang” berarti yang tidak bertubuh atau yang tidak mempunyai wujud. De’ artinya tidak, sedangkan watang (batang) berarti tubuh atau wujud. “Naiyya Dewata SeuwaE Tekkeinnang”, artinya “Adapun Tuhan Yang Maha Esa itu tidak beribu dan tidak berayah”. Sedang dalam Lontarak Sangkuru’ Patau’ Mulajaji sering juga digunakan istilah “Puang SeuwaE To PalanroE”, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta. Istilah lain, “Puang MappancajiE”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Konsep “Dewata SeuwaE” merupakan nama Tuhan yang dikenal etnik Bugis – Makassar. 
Kepercayaan orang Bugis kepada “Dewata SeuwaE” dan “PatotoE” serta kepercayaan “Patuntung” orang Makassar sampai saat ini masih ada saja bekas-bekasnya dalam bentuk tradisi dan upacara adat. Kedua kepercayaan asli tersebut mempunyai konsep tentang alam semesta yang diyakini oleh masyarakat pendukungnya terdiri atas tiga dunia, yaitu dunia atas (boting langi), dunia tengah (lino atau ale kawa) yang didiami manusia, dan dunia bawah (peretiwi). Tiap-tiap dunia mempunyai penghuni masing-masing yang satu sama lain saling mempengaruhi dan pengaruh itu berakibat pula terhadap kelangsungan kehidupan manusia. 
Selain itu, orang Bugis Makassar pra-Islam juga melakukan pemujaan terhadap kalompoang atau arajang. Kata “Arajang” bagi orang Bugis atau “Kalompoang” atau “Gaukang” bagi orang Makassar berarti kebesaran. Yang dimaksudkan ialah benda-benda yang dianggap sakti, keramat dan memiliki nilai magis. Benda-benda tersebut adalah milik raja yang berkuasa atau yang memerintah dalam negeri. Benda-benda tersebut berwujud tombak, keris, badik, perisai, payung, patung dari emas dan perak, kalung, piring, jala ikan, gulungan rambut, dan lain sebagainya. 
4.      Sistem kepercayaan agama islam
Masyarakat bugis dengan segala dan kebudayaan  menganut agama islam. kepercayaan yang banyak di anut suku bugis ini telah masuk sejak abad ke 17. Kepercayaan islam di suku bugis ini sendiri awal mulanya dibawa oleh pesyiar dari daerah minangkabau. Kemudian oleh para pesyiar tersebut penyebaran agama islam dilakukan ke tiga wilayah. Penyiar abdul makmur di tugaskan untuk menyebarkan agama islam di daerah gowa dan tallo, sementara di daerah luwu yang di tugaskan adalah penyiar Suleiman, dan terakhir penyiar nurdin ariyani di tugaskan di daerah terakhir yaitu daerah bulukumba. Awal mulanya hanya merekalah yang menyiarkan dan mengembangkan ajaran islam di tanah bugis.
C.    MATA PENCAHARIAN
Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.
Kepiawaian suku Bugis-Makasar dalam mengarungi samudrapun cukup dikenal luas, dan wilayah perantauan mereka pun hingga Malaysia, Filipina, Brunei, Thailand, Australia, Madagaskar dan Afrika Selatan. Bahkan, di pinggiran kota Cape Town, Afrika Selatan terdapat sebuah suburb yang bernama Maccassar, sebagai tanda penduduk setempat mengingat tanah asal nenek moyang mereka.
Penyebab dari merantauny suku Bugis-Makassar ialah konflik antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis pada abad ke-16, 17, 18 dan 19, menyebabkan tidak tenangnya daerah Sulawesi Selatan. Hal ini menyebabkan banyaknya orang Bugis bermigrasi terutama di daerah pesisir. Selain itu budaya merantau juga didorong oleh keinginan akan kemerdekaan. Kebahagiaan dalam tradisi Bugis hanya dapat diraih melalui kemerdekaan.
D.    BAHASA DAN LITERATUR
Dalam kesehariannya hingga saat ini orang bugis masih menggunakan bahasa “Ugi” yang merupakan bahasa keluarga besar dari bahasa Austronesia Barat. Selain itu, orang Bugis juga memiliki aksara sendiri yakni aksara lontara yang berasal dari huruf Sansekerta. Bahkan uniknya, logat bahasa Bugis berbeda di setiap wilayahnya; ada yang kasar dan ada yang halus. Bahasa, yang dimiliki Suku Bugis menandakan satu hal: Suku Bugis pada masanya memiliki peradaban yang luar biasa hebatnya. Nenek moyang Suku Bugis adalah orang-orang pintar yang mampu menciptakan dan mewariskan ilmu pengetahuan.
E.     KESENIAN
·          Alat musik
1.      Kacapi (kecapi) Salah satu alat musik petik tradisional Sulawesi Selatan khususnya sukuBugis, Bugis Makassar dan Bugis Mandar. Menurut sejarahnya kecapi ditemukan atau diciptakan oleh seorang pelaut, sehingga bentuknya menyerupai perahu yang memiliki dua dawai, diambil karena penemuannya dari tali layar perahu.
2.      Sinrili, Alat musik yang mernyerupai biola tetapi biola di mainkan dengan membaringkan di pundak sedangkan Singrili di mainkan dalam keedaanpemain duduk dan alat diletakkan tegak di depan pemainnya.
3.      Gendang Musik , perkusi yang mempunyai dua bentuk dasar yakni bulat panjang danbundarseperti rebana.
4.      SulingSuling bambu/buluh, terdiri dari tiga jenis, yaitu:
Ø  Suling panjang (suling lampe), memiliki 5 lubang nada. Suling jenis ini telahpunah
Ø  Suling calabai (Suling ponco),sering dipadukan dengan piola (biola) kecapidan dimainkan bersama penyanyi
Ø  Suling dupa samping (musik bambu), musik bambu masih terplihara didaerahKecamatan Lembang. Biasanya digunakan pada acara karnaval (barisberbaris) atau acara penjemputan tamu.
·         Seni Tari
Ø  Tari pelangi; tarian pabbakkanna lajina atau biasa disebut tari meminta hujan.
Ø  Tari Paduppa Bosara; tarian yang mengambarkan bahwa orang Bugis jika kedatangan tamu senantiasa menghidangkan bosara, sebagai tanda kesyukuran dan kehormatan
Ø  Tari Pattennung; tarian adat yang menggambarkan perempuan-perempuan yang sedang menenun benang menjadi kain. Melambangkan kesabaran danketekunan perempuan-perempuan Bugis.
Ø  Tari Pajoge’ dan Tari Anak Masari; tarian ini dilakukan oleh calabai(waria), namun jenis tarian ini sulit sekali ditemukan bahkan dikategorikan telahpunah.
Ø  Jenis tarian yang lain adalah tari Pangayo, tari Passassa ,tari Pa’galung, dan Tari Pabbatte (biasanya di gelar padasaat Pesta Panen)


KESIMPULAN
Pada dasarnya Indonesia kaya akan kebudayaan yang berada di pulau-pulau. Di setiap pulau mempunyai suku yang beraneka ragam pula, contohnya Suku Bugis yang terdapat di Sulawesi Selatan. Penyebaran Suku Bugis sudah banyak di Indonesia hingga ke Pulau Kalimantan bahkan Pulau Sumatera akibat sifat manusia Suku Bugis yang suka merantau, penyebarannya melalui perdagangan dan pernikahan, jadi tak heran jika kita dapat menemukan Suku Bugis selain di Provinsi Sulawesi.
Kekayaan keseniannya pun menyebar luas dan harus di lestarikan dan di paten kan hak ciptanya agar tidak dapat di klaim oleh Negara lain, karena itu merupakan bagian dari kesenian Negara Indonesia.
SARAN
Pada era teknologi seperti saat ini, kebudayaan dan kesenian tradisional semakin tergeser. Sebaiknya pada anak usia dini di ajarkan tentang kesenian tradisional, baik dari segi bahasa, tari, alat music maupun adat isitiadat lainnya. Itu semua demi kelestarian kebudayaan dan kesenian tradisional.


DAFTAR PUSTAKA
Abu Hamid, 1982, Selayang Pandang, Uraian Tentang Islam dan Kebudayaan (dalam buku Bugis Makassar Dalam Peta Islamisasi Indoensia), Ujung Pandang, IAIN.
Abd. Kadir Ahmad, 2004, Masuknya Islam di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Ternggara, Makassar, Balai Litbang Agama Makassar.
Mattuladda, 1974. Bugis Makassar, Manusia dan Kebudayaan. Makassar. Berita Antropologi No. 16 Fakultas Sastra UNHAS.
------------, 1975. Latoa, Suatu Lukisan Analitis Antropologi Politik Orang Bugis., Makassar: Disertasi.

makalah barobbo bugis

Pengelolaan Program PNF

MAKALAH BAROBBO BUGIS

umparwarna     







OLEH:


SY NURJAMILA 
 ( 215 130 014)


Dosen Pembina:
A.    Hasdiansyah S.Pd., M.Pd


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE

2017

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga penulis mampu menyelesaikan “Makalah Barobbo Bugis” ini dapat tersusun dengan semestinya. Tak lupa pula penulis kirimkan salawat serta salam kepada Nabi Muhammad Saw yang merupakan suritauladan bagi seluruh umat manusia di muka bumi ini.
Pada “Makalah Barobbo Bugis”ini bertujuan untuk memberikan sumbangan pemikiran kepada khalayak pembaca tentang “Kandungan dari makanan Barobbo Bugis”. Sehingga pada “Makalah Barobbo Bugis” ini berisi kandungan dari jagung. Ucapan terima kasih tak lupa kami lontarkan kepada:
1.      A. Hasdiansyah,S.Pd., M.Pd selaku dosen pembina mata kuliah Pengelolaan Program PNF.
2.      Pihak-pihak yang ikut berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini.
Dengan belajar  memahami dan mengkaji kandungan yang terdapat pada jagung penulis berinisiatif untuk membuat makanan khas bugis yang dinamakan “Barobbo Bugis” dan diharapkan kepada pembaca dapat mengambil intisari dari pembuatan makanan ini.
Akhir kata, tiada gading yang tak retak, demikan pula dengan “Makalah Barobbo Bugis”ini, masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari setiap pembaca agar pada kesempatan lainnya penulis dapat menulis “Makalah Barobbo Bugis” dengan lebih baik.


Parepare, 18 Mei 2017
Penulis,


Sy. Nurjamila



DAFTAR ISI
Kata Pengantar...........................................................................................................................    i
Daftar isi....................................................................................................................................    ii
BAB 1
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang...............................................................................................................    1
B.     Rumusan Masalah.........................................................................................................    2
C.     Tujuan Penelitian...........................................................................................................    2
D.     Manfaat Penelitian.........................................................................................................    2
BAB II
METODE PENELITIAN
A.     Jenis Penelitian..............................................................................................................    3
B.     Waktu dan Tempat Penelitian........................................................................................    3
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.     Definisi Barobbo Bugis Secara Umum..........................................................................    4
B.     Manfaat Jagung.............................................................................................................    4
C.     Alat & Bahan yang Dibutuhkan.....................................................................................    6
D.     Cara Membuat...............................................................................................................    6
BAB IV
PENUTUP
A.     Kesimpulan...................................................................................................................    7
B.     Saran.............................................................................................................................    7
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................    8

BAB I
PENDAHULUAN
A.     LATAR BELAKANG
Tanaman jagung merupakan salah satu tanaman pangan yang terpenting di Dunia selain Gandum dan juga Padi. Negara yang mengkomsumsi jagung sebagai sumber makanan pokok adalah Amerika Tengah dan Juga Amerika Selatan.  Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Tinggi tanaman jagung umumnya antara 1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan. Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman.
Batang jagung tegak dan mudah terlihat. Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset, batang beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin. Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang Antara pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence), serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun.
 Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (protandri).
Adapun manfaat jagung diantaranya pada bidang kesehatan yaitu mengobati penyakit kanker, Sebagai Sumber Asam Linoleat, Mencegah Anemia Dan Sebagai Kekebalan Tubuh, Sumber Kalium, Sumber Vitamin C, Sumber Asam Pentotenat (vitamin B5), Sumber Asam Folat, Sumber Beta-Karoten, Sumber Serat, Sumber Mineral, Anti-Aterogenik,dan Sumber Pigmen Fenolik Flavonoid. Namun, pada kesempatan ini penulis akan mengulas tentang makanan yang terbuat dari bahan dasar jagung yang biasanya dinamakan dngan “Barobbo Bugis”.


B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimanakah kandungan dari makanan “Barobbo Bugis”?
2.      Apakah makanan “Barobbo Bugis” layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat?
3.      Bagaimana manfaat makanan “Barobbo Bugis” terhadap kesehatan manusia?

C.     TUJUAN PENELITIAN
Secara umum makalah ini bertujuan untuk mengetahui seluk beluk tentang kandungan dan manfat dari makanan “Barobbo Bugis”.       
D.     MANFAAT MAKALAH
1.      Manfaat Untuk Penulis
Agar penulis dapat mengetahui lebih luas tentang seluk beluk makanan “Barobbo Bugis” serta mampu menerapkan manfaat yang dihasilkan oleh makanan “Barobbo Bugis” tersebut.
2.      Manfaat Untuk Pembaca
Agar pembaca dapat mengetahui manfaat dan kandungan dari “Barobbo Bugis” serta dapat mengetahui bahwa “Barobbo Bugis” layak untuk dikonsumsi.



BAB II
METODE PENELITIAN
A.     Jenis Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif, yaitu sebuah metode yang bertujuan untuk memberikan pemaparan dan penjelasan tentang “Barobbo Bugis” kepada para pembaca.
           
B.     Waktu dan Tempat Kegiatan Proses Pembuatan Makalah
Waktu dan tempat kegiatan dapat diuraikan sebagai berikut:
1.      Waktu
Makalah ini dilaksanakan 3 tahapan yaitu tahap persiapan, tahap penerapan atau pelaksanaan, dan tahap penyelesaian atau evaluasi.
·         Tahap Persiapan
Tahap persiapan adalah tahap untuk merencakan penelitian. Pada tahap ini dilakukan identifikasi terhadap berbagai kebutuhan selama penelitian berlangsung. Hal tersebut berupa menentukan tema masalah, menyusun jadwal proses penelitian, dan mencari referensi yang mampu menunjang pembuatan makalah.
·         Tahap Penerapan atau Pelaksanaan
Tahap penerapan atau pelaksanaan adalah tahapan proses pembuatan makalah. Tahap ini adalah tahapan mencari sumber-sumber informasi yang berkaitan dengan “Barobbo Bugis”. Tahap pelaksanaan dilakukan pada tanggal  18 Mei 2017
·         Tahap penyelesaian
Tahap penyelesaian adalah tahapan penulisan “Makalah Barobbo Bugis”, olah data, hingga penyelesaian “Makalah Barobbo Bugis”  berupa pengetikan. Tahap ini dilakukan pada tangal  20 Mei 2017

2.      Tempat
Proses pencarian informasi dilakukan diruangan Dekan fakultas Teknik UMPAR dengan bantuan Wi-Fi untuk mencari berbagai sumber yang berkaitan dengan “Barobbo Bugis” di internet.



BAB III
PEMBAHASAN
A.     DEFINISI BAROBBO BUGIS SECARA UMUM
Barobbo merupakan makanan khas yang terbuat dari Jagung atau masyarakat sulawesi selatan kenal dengan nam "Barelle", makanan ini merupakan salah satu makanan dengan penggemar yang cukup fantastis, kalau dikalangan masyarakat sendiri bahan dasar makanan ini memang sangat familiar, ada banyak masakan dan makanan yang dapat dibuat atau dihasilkan dari bahan dasar jagung ini,jagung untuk masyarakat sul-sel sendiri berada di urutan dua setelah pisang untuk dibuat masakan atau makanan,baik itu dalam bentuk kue, makanan tradisional, campuran untuk sayur, dll. Masakan ini biasanya oleh masyarakat sul-sel di buat setelah panen jagung, terutama daerah yang memiliki atau menjadi penghasil jagung.

B.     MANFAAT JAGUNG
1.      Meningkatkan kesehatan penglihatan
Jagung manis kaya akan antioksidan yang membantu meningkatkan kemampuan penglihatan. Pigmen zeaxanthin yang ada dalam jagung manis melindungi mata dari penyakit seperti degenerasi makula. Jagung manis juga kaya akan beta karoten dan folat yang mencegah penyakit lain yang berkaitan dengan kemampuan penglihatan.
2.      Meningkatkan daya ingat
Jika Anda sering melupakan hal-hal penting, bukan tak mungkin daya ingat Anda mulai turun. Jagung manis bisa membantu Anda untuk meningkatkan daya ingat. Jagung manis kaya akan Thiamine dan vitamin B1. Selain itu, jagung manis juga meningkatkan kemampuan ingatan dan mencegah penyakit yang berkaitan dengan ingatan. jagung manis juga efektif untuk mengurangi masalah pada pasien Alzheimer.
3.      Mengatasi masalah penyakit jantung
Jagung manis kaya akan folat yang dikenal sebagai vitamin B9. Vitamin ini membantu menurunkan asam amino yang ada dalam pembuluh darah tubuh. Meningkatkan asam amino bisa menyebabkan masalah pada pembuluh darah yang kemudian menyebabkan masalah jantung. Konsumsi jagung manis untuk menurunkan risiko terkena masalah jantung dan mencegah kerusakan pada jantung Anda.

4.      Mencegah kanker paru-paru
Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa jagung manis bisa mencegah kanker paru-paru. Terdapat zat kimia alami yang disebut cryptoxanthin dalam jagung manis yang jika diserap oleh tubuh akan berubah menjadi vitamin A. Karena itu, zat ini membantu mencegah perkembangan kanker paru-paru, juga mencegah terbentuknya kanker jenis lain.
5.      Meningkatkan kekuatan tulang
Jagung manis kaya akan mangan, zat seng, dan tembaga. Ini membantu meningkatkan kekuatan otot dalam tubuh. Tak hanya itu, zat tersebut juga menurunkan rasa sakit akibat arthritis pada wanita. Magnesium juga membantu mencegah mati rasa pada otot dan tubuh.
6.      Meningkatkan sistem kekebalan tubuh
Jagung manis dipenuhi oleh protein dan vitamin C. Vitamin C yang ada di dalamnya akan membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Selain itu, vitamin C ini juga membantu mencegah demam, pilek, dan flu. Protein yang ada dalam jagung manis pun baik untuk memberikan asupan energi pada tubuh.
7.      Mengatasi anemia
agung manis juga sumber zat besi yang baik. Karena itu mengonsumsi jagung manis bisa membantu Anda mengatasi anemia. Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa mengonsumsi jagung manis selama satu bulan akan meningkatkan hemoglobin hingga 50 persen. Asam folat yang ada di dalam jagung manis pun bisa membantu mengatasi anemia.
8.      Menurunkan kolesterol
Jika Anda memiliki masalah dengan tingkat kolesterol tinggi, jagung manis bisa membantu Anda menurunkan tingkat kolesterol dalam tubuh. Secara tak langsung jagung manis juga mencegah penyakit jantung.



C.     ALAT & BAHAN

1.      Alat
·         Panci
·         Kompor
·         Sendok besar
·         Baskom
·         Sendok
·         Gas elpiji



2.      Bahan
·         Jagung
·         Beras
·         Air
·         Bayam
·         Bawang merah
·         Bawang putih
·         Garam
·         Merica bubuk
·         Minyak goreng


D.     CARA MEMBUAT
1.      Masak beras dengan air di panci sampai mendidih.
2.      Masak jagung yang sudah disisir dengan air sampai mendidih.
3.      Masukkan bawang putih, bawang merah, merica bubuk dan garam ke dalam adonan jagung kemudian masak sampai matang.
4.      Tambahkan bayam, kangkung dan juga seledri kemudian masak lagi sampai sayuran matang dan layu.
5.      Untuk membuat perkedel kita bisa membuatnya dengan mengaduk rata bahan-bahan perkedel.
6.      Goreng perkedel dengan cara menyendok bahan perkedel ke dalam minyak yang panas kemudian goreng sampai matang.
7.      Sajikan masakan bubur dengan tambahan ayam goreng suwir, perkedel dan bawang goreng agar rasanya lebih nikmat.


BAB IV
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Barobbo merupakan makanan khas yang terbuat dari Jagung atau masyarakat sulawesi selatan kenal dengan nama "Biralle" (makassar) atau "arelle" (Bugis), makanan ini merupakan salah satu makanan dengan penggemar yang cukup fantastis, kalau dikalangan masyarakat sendiri bahan dasar makanan ini sangat memang sangat familiar, ada banyak masakan dan makanan yang dapat dibuat atau dihasilkan dari bahan dasar jagung ini, jagung untuk masyarakat sul-sel sendiri berada di urutan dua setelah pisang untuk dibuat masakn atau makanan,baik itu salam bentuk kue, makanan tradisional, campuran untuk sayur,dll. Masakan ini biasanya oleh masyarakat sul-sel di buat setelah panen jagung ,terutama daerah yang memiliki atau menjadi penghasil jagung.
Kemudian, yang terpenting adalah makanan “Barobbo Bugis” ini layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat karena terdapat banyak manfaat yang terkandung didalamnya, diantaranya yaitu:
1.      Meningkatkan kesehatan penglihatan
2.      Meningkatkan daya ingat
3.      Mengatasi masalah penyakit jantung
4.      Mencegah kanker paru-paru
5.      Meningkatkan kekuatan tulang
6.      Meningkatkan sistem kekebalan tubuh
7.      Mengatasi anemia
8.      Menurunkan kolesterol

B.     SARAN
1.      Untuk Penulis
Semoga penulis dapat mempertanggung jawabkan makalah yang ditulisnya dan dapat menerima segala bentuk kritikan dan juga masukan yang diberikan untuk menyempurnakan makalah berikutnya.
2.      Untuk Pembaca
Semoga pembaca dapat mempelajari dan memahami kandungan dan makanan “Barobbo Bugis” layak untuk dikonsumsi selain itu terdapat banyak manfaat yang dihasilkan dari makanan bugis tersebut.



DAFTAR PUSTAKA